Tulisan 2 ( B. Inggris Bisnis 2 )
Al-Ghazali ra dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumuddin telah
menyebutkan: “Perlu diketahui bahwa jalan untuk melatih anak-anak
termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang
lebih dari yang lainnya”. Anak merupakan amanat ditangan kedua orang
tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat
berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan (dalam lingkungan
rumah tangga dan lingkungan sosial), niscaya dia akan tumbuh menjadi
baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya,
jika dibiasakan dengan keburukan (dalam lingkungan rumah tangga dan
lingkungan sosial) serta ditelantarkan, niscaya dia akan menjadi orang
yang celaka dan berdampak sangat buruk bagi perkembangan baik fisik,
mental, maupun spiritual sang anak.
Orang tua berkewajiban memelihara anak-anaknya dengan cara mendidik,
menanamkan budi pekerti yang baik, mengajarinya akhlak-akhlak yang mulia
melalui keteladanan dari orang tuanya, dan juga berusaha memenuhi
kebutuhan anak baik lahir maupun batin secara proporsional sesuai dengan
tingkat perkembangan dan kondisi anak. Mendidik dan memberikan tuntunan
merupakan sebaik-baik hadiah dan perhiasan paling indah yang diberikan
oleh orang tua kepada anaknya. Sudah menjadi keharusan bagi orang tua
dan pendidik untuk bekerja bersama-sama memberikan kontribusi secara
aktif dan positif dalam membentuk kualitas anak yang cerdas baik secara
intelektual, emosional, maupun spiritualnya.
Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu
aspek dari tahapan perkembangan anak yang seharusnya tidak luput juga
dari perhatian para pendidik pada umumnya dan orang tua pada khususnya.
Pemerolehan bahasa oleh anak-anak merupakan prestasi manusia yang
paling hebat dan menakjubkan.Oleh sebab itulah masalah ini mendapat
perhatian besar. Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak
lama. Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai
bagaimana anak-anak berbicara, mengerti, dan menggunakan bahasa, tetapi
sangat sedikit hal yang kita ketahui mengenai proses aktual perkembangan
bahasa.
- A. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Secara Umum
Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam
bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non
verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau symbol. Manusia
berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam
tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai
cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas
sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.
Bahasa adalah simbolisasi dari sesuatu idea atau suatu pemikiran yang
ingin dikomunikasikan oleh pengirim pesan dan diterima oleh penerima
pesan melalui kode-kode tertentu baik secara verbal maupun nonverbal.
Bahasa digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan
lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi.
Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara yang mengacu pada simbol
verbal.
Selain itu, bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda
gestural, dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi
nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi
adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara.
Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal
dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang
menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.
Tahapan-tahapan Umum Perkembangan Kemampuan Berbahasa Seorang Anak, Yaitu:
Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeuarkan suara tangisan yang masih
berupa refleks. Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin
menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.
Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak
nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya,
tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan
atau perasaan si bayi.
Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun
belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s/d 6 bulan sehingga
ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang diulang-ulang,
seperti: “
ba….ba…, ma..ma….”
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan ia mulai meniru
suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia juga akan
menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta
sesuatu.
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu usianya sekitar 18
bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum sempurna
seperti orang dewasa.
- B. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Menurut Beberapa Ahli
- Lundsteen, membagi perkembangan bahasa dalam 3 tahap, yaitu:
1. Tahap pralinguistik
- Pada usia 0-3 bulan, bunyinya di dalam dan berasal dari tenggorok.
- Pada usia 3-12 bulan, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.
2. Tahap protolinguitik
- Pada usia 12 bulan-2 tahun, anak sudah mengerti dan menunjukkan
alat-alat tubuh. Ia mulai berbicara beberapa patah kata (kosa katanya
dapat mencapai 200-300).
3. Tahap linguistik
- Pada usia 2-6 tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan kosa katanya mencapai 3000 buah.
- Bzoch membagi tahapan perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat stadium, yaitu:
- 1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik
Terjadi pada umur 0-3 bulan dari periode lahir sampai akhir tahun
pertama. Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa baik
isi, bentuk, dan pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk
bahasa konvensional, kemampuan kognitif bayi juga belum berkembang.
Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana. Periode ini
disebut prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa
mengungkapkan bentuk bahasa konvensional, mereka mengamati dan
memproduksi suara dengan cara yang unik.
Klinisi harus menentukan apakah bayi mengamati atau bereaksi terhadap
suara. Bila tidak, ini merupakan indikasi untuk evaluasi fisik dan
audiologi.
Selanjutnya, intervensi direncanakan untuk membangun lingkungan yang
menyediakan banyak kesempatan untuk mengamati dan bereaksi terhadap
suara.
2. Kata – kata pertama : transisi ke bahasa anak
Terjadi pada umur 3-9 bulan. Salah satu perkembangan bahasa utama
milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi pada akhir
tahun pertama, berlanjut sampai satu setengah tahun saat pertumbuhan
kosa kata berlangsung cepat, juga tanda dimulainya pembetukan kalimat
awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol, dan interpretasi
emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata pertama anak.
Arti kata-kata pertama mereka dapat merujuk ke benda, orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.
3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal.
Terjadi pada umur 9-18 bulan. Bentuk kata-kata pertama menjadi banyak
dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan produksi
kata-kata berlangsung cepat pada sekitar umur 18 bulan. Anak mulai bisa
menggabungkan kata benda dengan kata kerja yang kemudian menghasilkan
sintaks. Melalui interaksinya dengan orang dewasa, anak mulai belajar
mengkonsolidasikan isi, bentuk, dan pemakaian bahasa dalam
percakapannya. Dengan semakin berkembangnya kognisi dan pengalaman
afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata yang tersimpan
dalam memorinya. Terjadi pergeseran dari pemakaian kalimat satu kata
menjadi bentuk kata benda dan kata kerja.
4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa.
Terjadi pada umur 18-36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai
meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan
perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir
konseptual, mengkategorikan benda, orang, dan peristiwa serta dapat
menyelesaikan masalah fisik. Anak terus mengembangkan pemakaian bentuk
fonem dewasa
Perkembangan bahasa pada anak dapat dilihat juga dari pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya, yaitu:
- 1. Perkembangan Pragmatik
Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini,
pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya
karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan
mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga
kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu
buatnya.
-Pada usia 3 minggu, bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar,
misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara, dan gelitikan. Ini
disebut senyum sosial.
-Pada usia 12 minggu, mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan.
-Pada usia 2 bulan, bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya.
-Pada usia 5 bulan, bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari
bentuk ekspresi wajah. -Pada usia 6 bulan, bayi mulai tertarik dengan
benda-benda sehinga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi, dan
benda-benda.
-Pada usia 7-12 bulan, anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan
keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan
bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar
18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku
kata. -Pada usia 2 tahun, anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan
mampu merangkai kalimat dua kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya
dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah
topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap
persepsi pendengar. Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya
dalam memperkenalkan topik baru.
-Lewat umur 3 tahun, anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa
kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu mempertahankan topik yang
selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen anak 5 tahun
dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran. Sekitar 36 bulan,
terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh
kesadaran sosial dalam percakapan.
Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun
baik dan teradaptasi baik untuk pendengar. Sebagian besar pasangan
berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak
mulai membangun jaringan sosial yang melibatkan orang diluar keluarga,
mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri serta menjadi
lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh
bermakna pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam
membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung
sepanjang usia pra sekolah. Anak berada pada fase mono dialog,
percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Monolog
kaya akan lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan
ekspresi perasaan.
- 2. Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik,
maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda yang
berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang pesat
pada masa prasekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata
lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan
terjadi penambahan lima kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun.
Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi
strategi pemetaan yang cepat diusia ini sehingga anak dapat
menghubungkan suatu kata dengan rujukannya. Pemetaan yang cepat adalah
langkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara
bertahap anak akan mengartikan lagi informasi-informasi baru yang
diterima. Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti
fisik seperti bentuk, ukuran dan warna, properti fungsi, properti
pemakaian, dan lokasi. Definisi kata kerja anak prasekolah juga berbeda
dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar.
Anak prasekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk
apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami
pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses. Anak akan
mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya.
Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata
akan lebih meningkat dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi
akan terbentuk.
- 3. Perkembangan Sintaksis
Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18
bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan
lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata,
berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa
holofrastis. Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan
konteks penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata
tidaklah mungkin kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut.
Peralihan dari kalimat satu kata menjadi kalimat yang merupakan
rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama
terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata
tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata memberi
makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola
intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat
pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun dan mencapai puncaknya pada
akhir usia 2 tahun.
- 4. Perkembangan Morfologi
Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan,
mean length of utterance
(MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa
Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan
prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa. Dari usia 18 bulan sampai
5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem
mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun.
Beberapa sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan
morfologi semuanya merupakan Bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan
Bahasa Indonesia.
- 5. Perkembangan Fonologi
Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa.
Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada
kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia
prasekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem
fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang
dipakai untuk membedakan makna. Pemerolehan fonologi berkaitan dengan
proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal dan
konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV)
atau konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan
asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan produksi suara.
- C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anak dalam Berbahasa
Ada tiga faktor paling signifikan yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu biologis, kognitif,dan linkungan
1. Evolusi Biologi
Evolusi biologis
menjadi salah
satu landasan perkembangan bahasa. Mereka menyakini bahwa evolusi
biologi membentuk manusia menjadi manusia linguistik. Noam Chomsky
(1957) meyakini bahwa manusia terikat secara biologis untuk mempelajari
bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Ia
menegaskan bahwa setiap anak mempunyai
language acquisition device (LAD),
yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Tahun-tahun awal masa
anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa (
critical-period).
Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka
ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami
seumur hidup. Selain itu, adanya periode penting dalam mempelajari
bahasa bisa dibuktikan salah satunya dari aksen orang dalam berbicara.
Menurut teori ini, jika orang berimigrasi setelah berusia 12 tahun
kemungkinan akan berbicara bahasa negara yang baru dengan aksen asing
pada sisa hidupnya, tetapi kalau orang berimigrasi sebagai anak kecil,
aksen akan hilang ketika bahasa baru akan dipelajari (Asher &
Gracia, 1969).
2. Faktor kognitif
Individu merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada
perkembangan bahasa anak. Para ahli kognitif juga menegaskan bahwa
kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya
(Piaget,1954). Tahap awal perkembangan intelektual anak terjadi dari
lahir sampai berumur 2 tahun. Pada masa itu anak mengenal dunianya
melalui sensasi yang didapat dari inderanya dan membentuk persepsi
mereka akan segala hal yang berada di luar dirinya. Misalnya, sapaan
lembut dari ibu/ayah ia dengar dan belaian halus, ia rasakan, kedua hal
ini membentuk suatu simbol dalam proses mental anak. Perekaman sensasi
nonverbal (simbolik) akan berkaitan dengan memori asosiatif yang
nantinya akan memunculkan suatu logika. Bahasa simbolik itu merupakan
bahasa yang personal dan setiap bayi pertama kali berkomunikasi dengan
orang lain menggunakan bahasa simbolik. Sehingga sering terjadi hanya
ibu yang mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya dengan
melihat/mencermati bahasa simbol yang dikeluarkan oleh anak. Simbol yang
dikeluarkan anak dan dibahasakan oleh ibu itulah yang nanti membuat
suatu asosiasi, misalnya saat bayi lapar, ia menangis dan memasukkan
tangan ke mulut, dan ibu membahasakan, “lapar ya.. mau makan?”
3. lingkungan luar
Sementara itu, di sisi lain proses penguasaan bahasa tergantung dari stimulus dari
lingkungan.
Pada
umumnya, anak diperkenalkan bahasa sejak awal perkembangan mereka,
salah satunya disebut motherse, yaitu cara ibu atau orang dewasa, anak
belajar bahasa melalui proses imitasi dan perulangan dari
orang-orangdisekitarnya.
Bahasa pada bayi berkembang melalui beberapa tahapan umum:
- mengoceh (3-6 bulan)
- kata pertama yang dipahami (6-9 bulan)
- instruksi sederhana yang dipahami (9-12 bulan)
- kata pertama yang diucapkan (10-15 bulan)
- penambahan dan penerimaan kosa kata (lebih dari 300 kata pada usia 2 tahun).
- tiga tahun ke depan kosa kata akan berkembang lebih pesat lagi
Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh
ketrampilan bahasa yang baik. Tiga faktor diatas saling mendukung untuk
menghasilakan kemampuan berbahasa maksimal. Orang tua, khususnya, harus
memberikan stimulus yang positif pada pengembangan keterampilan bahasa
pada anak, seperti berkomunikasi pada anak dengan kata-kata yang baik
dan mendidik, berbicara secara halus, dan sebisa mungkin membuat anak
merasa nyaman dalam suasana kondusif rumah tangga yang harmonis, rukun,
dan damai. Hal tersebut dapat menstimulus anak untuk bisa belajar
berkomunikasi dengan baik karena jika anak distimulus secara positif
maka akan mungkin untuk anak merespon secara positif pula.
D. Pengaruh Pola Asuh terhadap Perkembangan Bahasa Anak
Secara mentali, pemerolehan bahasa bisa dimulai sejak bayi masih
berada dalam kandungan. Sang ibu bisa mengajak bayi berkomunikasi
tentang hal yang positif. Kontak batin antara ibu dan janin akan
tercipta dengan baik bila kondisi psikis ibu dalam keadaan stabil.
Keharmonisan yang terjalin lewat komunikasi bisa memengaruhi kejiwaan
anak. Orangtua bisa mengajak anak bercerita tentang kebesaran Sang
Pencipta dan alam ciptaan-Nya; mengenalkannya pada kicau burung, kokok
ayam, rintik hujan, desir angin; memperdengarkan Kalam Ilahi atau
membacakan kisah-kisah bijak.
Yudibrata dkk. (1998: 65-72) menjelaskan bahwa selama bulan-bulan
pertama pascalahir atau sebelum seorang anak mempelajari kata-kata yang
cukup untuk digunakan sebagai sarana berkomunikasi, anak secara kreatif
terlebih dahulu akan menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara
(preespeech). Keempat prabicara itu adalah tangisan,
ocehan/celoteh/meraban, isyarat, dan ungkapan emosional. Menurut para
pakar, perkembangan pemerolehan bahasa pada anak sangat berhubungan
dengan kematangan neuromoskularnya yang kemudian dipengaruhi oleh
stimulus yang diperolehnya setiap hari (Yudibrata, 1998: 72-73).
Awalnya, tidak ada kontrol terhadap pola tingkah laku termasuk tingkah
laku verbalnya. Vokal anak dan otot-otot bicaranya bergerak secara
refleks. Pada bulan-bulan pertama, otaknya berkembang dan mengatur
mekanisme saraf sehingga gerakan refleks tadi sudah dapat dikontrol.
Refleks itu berhubungan dengan gerakan lidah atau mulut. Misalnya, anak
akan mengedipkan mata kalau melihat cahaya yang berubah-ubah atau
bibirnya akan bergerak-gerak ketika ada sesuatu disentuhkan ke bibirnya.
Selanjutnya, dalam rangka memerikan perkembangan pemerolehan bahasa,
Stork dan Widdowson (dalam Yudibrata, 1998: 73) membedakan antara
kematangan menyimak (
receptive language skills) dan kematangan mengeluarkan bunyi bahasa atau berbicara (
expressive language skills).
Kematangan menyimak terjadi lebih dahulu daripada kematangan berbicara
meskipun dalam perkembangan selanjutnya kedua kematangan ini saling
berhubungan.
Pada awal kelahirannya, anak belum dapat membalas stimulus yang
berasal dari manusia. Seiring dengan berfungsinya alat artikulasi, yakni
ketika anak sudah mulai berceloteh dengan bunyi bilabial seperti [m]
untuk ma-ma dan [p] untuk pa-pa atau [b] untuk ba-ba, orangtua sudah
bisa melakukan interaksi bahasa dengan anak. Satu hal yang perlu
diingat, ma-ma dan pa-pa sebagai celotehan anak bukan merujuk pada makna
kata secara harfiah yang berarti ibu dan ayah, melainkan karena
semata-mata bunyi konsonan bilabial dan vokal [a] adalah bunyi yang
mudah dikuasai pada saat permulaan berujar. Dari keterampilan ini bisa
terjalin suasana yang lebih komunikatif antara orangtua dan anak yang
berdampak pada perkembangan selanjutnya. Dampaknya bisa positif bisa
juga negatif. Semakin baik stimulus yang diberikan orangtua, semakin
positif respon yang dimunculkan anak. Untuk melatih keterampilan
menyimak, orangtua bisa menggunakan metode simak-dengar dengan menyuguhi
anak cerita yang disukainya. Penceritaan langsung tanpa menggunakan
buku sekali-kali perlu dilakukan untuk perubahan suasana. Bercerita
langsung dengan kata-kata sendiri yang dimengerti anak akan memberi efek
lebih pada penceritaannya. Kegiatan bercerita ini hendaknya dilakukan
dengan menggunakan bahasa ibu (bahasa pertama anak).
Keterampilan menyimak akan berdampak pada keterampilan berbicara.
Stimulus orangtua yang berupa data simakan bagi anak bisa direspon
dengan metode ulang-ucap. Metode ini akan menunjukkan daya serap anak
terhadap cerita atau ujaran orangtua. Pada tahapan ini, orangtua
sebaiknya mengubah posisi dari posisi pencerita menjadi pendengar yang
baik. Biarkan anak bercerita dengan lugas menurut pemahamannya. Ini bisa
membantu anak dalam proses berbicara. Orangtua jangan menuntut anak
untuk bercerita sesuai dengan gaya penceritaan orangtua.
Hal itu akan membuat jiwa anak tertekan dan terhambat daya
kreativitasnya dalam berbahasa. Terkadang anak ingin berbagi cerita
tentang suatu hal yang baru dialami atau didapatinya dan ia akan sangat
senang jika orangtuanya mau meluangkan sedikit waktu untuk duduk
bersamanya dan mendengarkan celoteh riangnya. Namun, ada kalanya anak
enggan bercerita sama sekali. Jika ini terjadi, jangan paksa anak untuk
bercerita. Kondisi psikis anak tidak selalu dalam keadaan yang stabil.
Seringkali timbul sensitivitas yang memengaruhi sisi kejiwaannya
sehingga muncul perasaan kesal, marah, atau benci pada sesuatu hal.
Dialog atau komunikasi interpersonal antara orangtua dan anak bisa
menjadi alternatif solusi.
Pola asuh seperti dipaparkan di atas akan berhasil bilamana orangtua
mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa
anak. Para ahli sepakat bahwa pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh
penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan pemerolehan
bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa anak
tersebut (Yudibrata, 1998: 65). Sebelum anak memasuki lingkungan sosial
yang lebih luas, masa bermain dan bersekolah, lingkungan keluarga
seyogianya bisa menjadi arena yang menyenangkan bagi proses perkembangan
anak. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orangtua adalah guru
pertama yang bisa mengantar anak menuju gerbang pendidikan formal.
Sebagai guru, orangtua memiliki andil yang besar dalam pendidikan
anaknya, baik dalam segi waktu, materi, dan tenaga. Penyediaan sarana
dan prasarana pendidikan di lingkungan rumah merupakan hal penting bagi
proses perkembangan anak. Proses ini semestinya tidak terhambat oleh
masalah finansial. Yang penting, bagaimana orangtua membuat kondisi
rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak
dan sevariatif mungkin. Sesuai dengan nalurinya, anak senantiasa ingin
mengetahui segala hal dan mencoba sesuatu yang baru. Pemberian stimulus
akan memengaruhi perubahan perilaku anak. Stimulus yang diberikan
orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap
anak. Jika orangtua menginginkan anaknya santun berbahasa, maka berikan
stimulus yang positif. Setiap aktivitas yang ada dan terjadi di
lingkungan rumah merupakan rangkaian dari proses pemerolehan yang
sifatnya berkala dan berkesinambungan. Dalam hal ini orangtua berperan
sebagai motor penggerak yang memegang kendali pertama dan utama dalam
perkembangan bahasa anak melalui (salah satunya) pola asuh yang
mendidik.
- E. Gangguan Perkembangan Bahasa pada Anak
Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab terhambatnya
tumbuh-kembang anak yang sering ditemui. Adapun gangguan yang sering
dikeluhkan orangtua yaitu keterlambatan bicara. Beberapa laporan
menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5-10 %
pada anak sekolah. Anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara dan
harus berkonsultasi dengan ahli, bila sampai usia 12 bulan sama sekali
belum mengeluarkan ocehan atau babbling, sampai usia 18 bulan belum
keluar kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan
berbagai cara, terlihat kesulitan mengatakan beberapa kata konsonan,
seperti tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan, serta terlihat
berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngiler
atau raut muka berubah. Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan
banyak. Mulai yang bisa membaik hingga yang sulit dikoreksi. Semakin
dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan
pemulihan gangguan tersebu.
Ada beberapa gangguan yang perlu diperhatikan orangtua:
1.Disfasia
Adalah gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan
perkembangan kemampuan anak seharusnya. Ditengarai gangguan ini muncul
karena adanya ketidaknormalan pada pusat bicara yang ada di otak. Anak
dengan gangguan ini pada usia setahun belum bisa mengucapkan kata
spontan yang bermakna, misalnya mama atau papa. Kemampuan bicara
reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuan
bicara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan.
Karena organ bicara sama dengan organ makan, maka biasanya anak ini
mempunyai masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.
2.Gangguan disintegratif pada kanak-kanak (Childhood Diintegrative Disorder/CDD)
Pada usia 1-2 tahun, anak tumbuh dan berkembang dengan normal, kemudian
kehilangan kemampuan yang telah dikuasainya dengan baik. Anak berkembang
normal pada usia 2 tahun pertama seperti kemampuan komunikasi, sosial,
bermain dan perilaku. Namun, kemampuan itu terganggu sebelum usia 10
tahun, yang terganggu di antaranya adalah kemampuan bahasa, sosial, dan
motorik.
3.Sindrom Asperger
Gejala khas yang timbul adalah gangguan interaksi sosial ditambah gejala
keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan, dan aktivitas.
Anak dengan gangguan ini mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi
sosial. Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi
nonverbal (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap badan), tidak bisa
bermain dengan anak sebaya, kurang menguasai hubungan sosial dan
emosional.
4.Gangguan Multisystem Development Disorder (MSDD)
MSDD digambarkan dengan ciri-ciri mengalami problem komunikasi, sosial,
dan proses sensoris (proses penerimaan rangsang indrawi). Ciri-cirinya
yang jelas adalah reaksi abnormal, bisa kurang sensitif atau
hipersensitif terhadap suara, aroma, tekstur, gerakan, suhu, dan sensasi
indera lainnya. Sulit berpartisipasi dalam kegiatan dengan baik, tetapi
bukan karena tertarik, minat berkomunikasi dan interaksi tetap normal
tetapi tidak bereaksi secara optimal dalam interaksinya. Ada masalah
yang terkait dengan keteraturan tidur, selera makan, dan aktivitas rutin
lainnya.
- F. Elaborasi Mengenai Hasil Pemaparan atau Penjelasan Tentang Perkembangan Bahasa Pada Anak
Tahapan-tahapan perkembangan anak baik fisik maupun mental sangat
penting untuk dipelajari dan dipahami oleh para orang tua pada khususnya
dan para pendidik pada umumnya. Hal itu penting karena apa yang
diberikan oleh orang tua dan para pendidik kepada anak dalam masa
perkembangannya akan sangat berpengaruh pada masa depan sang anak
dikemudian harinya . Sebagai contohnya yaitu dalam aspek perkembangan
bahasa atau komunikasi pada anak. Untuk menanamkan perkembangan bahasa
anak yang baik diperlukan pola pengasuhan yang komprehensif dari orang
tua yang merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi seorang anak.
Keluarga merupakan ‘taman sekolah’ pertama bagi seorang anak. Dari
sana lah sang anak dibentuk pertama kali oleh orang tuanya akan menjadi
seperti apa dikemudian harinya. Orang tua harus memahami betul kapan
seorang anak mengalami perkembangan bahasa pertahapannya sehingga orang
tua dapat memberikan stimulus positif yang sesuai dengan tahapan
perkembangannya.
Dari awal ketika bayi lahir, seorang ayah langsung menyuarakan adzan
ke telinga sang bayi dengan tujuan agar suara yang pertama kali didengar
oleh anak adalah kalimat yang baik walaupun pada saat bayi lahir
pendengarannya belum dapat berfungsi dengan baik. Namun, jika pertamanya
diawali dengan baik maka dalam perkembangannya pun insya Allah dapat
baik pula.
Kemudian, ketika bayi mulai tumbuh dan melalui fase-fase perkembangan
bahasa, seorang ibu harus menstimuli sang anak dengan mengucapkan
kata-kata yang baik, pujian-pujian, kata-kata kasih sayang, dan disertai
pula dengan komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah yang lembut,
memberi ciuman dan pelukan hangat. Komunikasi verbal saja tidak cukup.
Jadi, harus saling bersamaan antara komunikasi verbal dan nonverbal.
Dengan begitu,
emotional bonding antara ibu dan anak semakin kuat.
Demikian pula ketika menstimulasi anak melalui sarana komunikasi,
seperti televisi, komputer, dan radio. Orang tua harus menemani anak
dalam menonton televisi. Berdasarkan penelitian, televisi dapat
menghambat perkembangan bahasa anak. Orang tua harus memilah-milah mana
tontonan yang baik dan sesuai dengan perkembangan anak dan mana yang
tidak dan pula harus diberi penjelasan mengenai pesan-pesan dari
tontonan tersebut pada anak. Kemudian, dalam memperkenalkan komputer
pada anak, orang tua harus secara aktif menemani anak dalam
memperkenalkan dan mempelajari komputer. Waktu pemakaian komputer pun
juga harus dibatasi karena anak juga harus berinteraksi dengan
lingkungan sosialnya. Lalu terkait dengan nyanyian atau lagu untuk
anak-anak. Hal itu pula harus diperhatikan karena sangat mempengaruhi
bahasa anak. Lebih baik menghidupi suasana rumah dengan senandung
Al-Qur’an dan perkenalkanlah Al-Qur’an sejak dini kepada anak.
Perkembangan bahasa pada anak tidak dapat berlangsung dengan baik
tanpa didukung aktif oleh orang tua dan pendidik. Selain ibu, peran ayah
pun juga sangat dibutuhkan dalam masa perkembangan bahasa anak. Ayah
juga harus menjadi teladan yang baik bagi anaknya, yaitu dalam
mengucapkan atau berkomunikasi dengan mengucapkan kata-kata yang penuh
ilmu dan tuntunan agama, tidak kasar, dan tidak membentak. Jika orang
tua dan pendidik bekerja sama dengan baik dalam memberikan teladan yang
positif pada anak dalam masa-masa perkembangannya baik fisik maupun
mental maka anak kelak akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang
mulia budi pekertinya dan santun budi bahasanya.
sumber : http://yayangy08.student.ipb.ac.id