Tampilkan postingan dengan label TUGAS DAN TULISAN BAHASA INGGRIS BISNIS2. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label TUGAS DAN TULISAN BAHASA INGGRIS BISNIS2. Tampilkan semua postingan

Rabu, 25 April 2012


Npm : 10208633

If you become a film director, what do you want for the end of this movie?

The end of this movie is pretty good in my opinion. Because Will and Sylvia Salas Weis (daughter of a conglomerate) has taken the time in the bank. And they distributed it to the time zone where Will poor where Salas was born and raised. And there is no distinction between poor and rich, distinctive residential zones.


Npm : 10208633

Film: IN TIME. What factors can inspire me?


Imagine if you could live to be hundreds of years without getting old. Imagine if you live in a world all its inhabitants look about 25 years old. Wiih so cool .. :) Avoid overpopulation, time becomes a currency and people living in luxury. World it has changed completely. Money is no longer everything. Age has taken over the position of money in this world. The rich can buy extra time for him to live longer while no money .... Game Over. Even more frightening, there is a countdown in the hands of everyone, which means they know exactly when it will die.
Npm : 10208633

Film: IN TIME. Why is this movie inspired me?

IN TIME tells the story of In the future, money is no longer something worthwhile. Time has replaced money. People willing to die for the sake of time because no time they had no meaning anymore. Because of the time anyway Will Salas (Justin Timberlake) become fugitives. He was accused of stealing time.
At that age all the stops when they reach age 25. After that, they will be installed at the hands of the clock will determine when they will die. Those who are rich can afford to buy their extended life while the poor struggled to get an extension.
Will Salas is not a rich man and that's why he immediately becomes suspect when all of a sudden Will inherit the age of one of the richest people in there. The problem is, there are corrupt officers in the law enforcement agency known as the Timekeeper. There was no other choice than trying to make Will Salas escape the Timekeeper.
And from the above synopsis can be concluded that an interesting story idea! If they could not imagine living the rest of the time we recorded in the hand so that we can know when we die? If you do not want to die, it must do everything they can. Start of work, pawning goods, borrowing from the lender, to ask for donations. Eat-thinkers must also be thinkers as it will cut the time of life we ​​have. Though not eating can be a death ...

Npm : 10208633

The (Why Generation). Why do you work?
Due to Generation Y, the work is not the identity. It was just a place. Gen Y can not accept why the company could not accommodate their needs and offer a few conveniences such as working from home, flexible hours, media cross-cultural communication, and working atmosphere "fun." They also do not arbitrarily take orders from superiors. The order was to be digested and enter its logic. Sometimes they're called "Generation Why?" They have given a good reason why something should be done.
Npm : 10208633



What is the differences among thats three generation?
CAREER
  • Baby Boomer: generation of baby boomers (ages 48-65) is the number of people who believe that they will get the same career after a long sabbatical, with the percentage of 83% confident that they can do that.
  • Generation X: Generation X tend to identify with the work career, stage, level, position and rank.  
  • Generation Y: Generation Y is not, a career is more synonymous with challenge, adventure, and self-development. They viewed his career as a part of life, is not identical with the job, even take it as an adventure.
Npm : 10208633




Do you agree that “Y Generation” will be dominate finally work force?
Do you agree that "Generation Y" will be finally Dominate work force?
Yes, I agree with that. Because because basically rank, position, even the content, no longer a primary consideration the millennial generation, or commonly referred to as Generation Y.
Gen Y does not know the word 'unemployment'. Always there for them to do. They could achieve. They do not work for money. And money is not decisive, but the money could be an indication of how companies value them.

Jumat, 30 Maret 2012

Pentingnya Penguasaan Bahasa Inggris dalam dunia Akademik dan Dunia Kerja

Tulisan 3 (B. Inggris Bisnis 2)

Bahasa Inggris merupakan bahasa yang semestinya dikuasai oleh setiap siswa, mulai dari Sekolah Dasar (SD) hingga tingkat Perguruan Tinggi. hal itu karena dalam masa sekarang ini bahasa inggris merupakan salah satu unsur yang menetukan selling poin dan daya kompetitif seseorang baik itu dalam dunia akademik maupun untuk menghadapi dunia kerja
Dalam dunia akademik seseorang yang hendak melanjutkan sekolah dari tingkat S-1 ke S-2, memerlukan skor TOEFL, sementara bagi mereka yang akan melamar kerja, perusahaan perusahaan besar mempersyaratkan nilai TOEFL tertentu bagi pelamar yang akan mengikuti seleksi. Demikian pun bagi mereka yang sudah bekerja tapi ingin naik pangkat/golongan, maka ada peryaratan nilai TOEFL tertentu yang menjadi acuan seseorang layak untuk mengikuti seleksi kenaikan pangkat atau golongan tersebut.
Untuk menguasai bahasa inggris diperlukan semangat, passion, gairah, dan motivasi tinggi. hal ini karena mempelajari bahasa inggris membutuhkan pengorbanan waktu dan tenaga, bukan hanya satu bulan dua bulan, atau satu tahun dua tahun saja. untuk menguasai bahasa inggris dengan baik dibutuhkan konsistensi dalam menerapkan latihan dengan disiplin dan intensitas waktu yang teratur dan tanpa henti.
Selain itu, dukungan dana pun merupakan pengorbanan yang wajib dilakukan. menurut pengalaman penulis, mempelajari bahasa inggris membutuhkan waktu lebih dari sepuluh tahun, itupun bila tidak rutin maka untuk memelihara kemampuan terutama dalam percakapan/conversation akan menjadi hal yang sulit.
Bergabung dengan klub bahasa inggris menjadi salah satu solusi bagi mereka yang memiliki keterbatasan dana untuk mengikuti kursus di lembaga atau privat. Dengan bergabung di klub bahasa inggris peserta akan memperoleh ilmu yang berharga yang meliputi hampir keseluruhan bidang kompetensi bahasa inggris. berdasarkan pengalam penulis selama lebih dari 9 tahun bergabung di berbagai klub bahasa inggris di Bandung, peserta klub bahasa inggris mendapatkan materi yang cukup lengkap, mulai dari grammar sederhana, materi Kosa kata (vocabulary), Idiom, slang, bahkan materi pendukung untuk TOEFL.
Beberapa klub bahasa inggris yang ada dan pernah ada dibandung diantaranya adalah United Conversation Club (UCC) LBPP Lia Bandung, COZY CORNER bandung, Lembaga Administrasi Negara (LAN) English Club, E-Club The British Institut, RRI Bandung English Club, The Center, dan masih banyak lagi.
Selain bergabung dengan english club, bagi mereka yang memiliki dana lebuh tentunya dapat memanfaatkan dengan mengikuti kursus bahasa, apabila seseorang mengikuti keduanya, maka dapat dipastikan orang tersebut akan mengalami kemajuan yang pesat dalam bidang bahasa inggris melebihi mahasiswa jurusan bahasa inggris sekalipun.
Beberapa perguruan tinggi di Bandung memiliki tempat kursus bahasa inggris sendiri diantaranya UPI, ITB dan Unpad. tempat kursus tersebut selain digunakan untuk membina mahasiswa dari kalangan internal, juga menerima mahasiswa dari luar (komersil), dan juga tersedia club bahasa untuk mempertajam kemampuan yang telah diperoleh dalam perkuliahan.

sumber : http://agung.blog.stisitelkom.ac.id

Perkembangan Bahasa Pada Anak

Tulisan 2 ( B. Inggris Bisnis 2 )

Al-Ghazali ra dalam bukunya yang berjudul Ihya Ulumuddin telah menyebutkan: “Perlu diketahui bahwa jalan untuk melatih anak-anak termasuk urusan yang paling penting dan harus mendapat prioritas yang lebih dari yang lainnya”. Anak merupakan amanat ditangan kedua orang tuanya dan kalbunya yang masih bersih merupakan permata yang sangat berharga. Jika ia dibiasakan untuk melakukan kebaikan (dalam lingkungan rumah tangga dan lingkungan sosial), niscaya dia akan tumbuh menjadi baik dan menjadi orang yang bahagia di dunia dan di akhirat. Sebaliknya, jika dibiasakan dengan keburukan (dalam lingkungan rumah tangga dan lingkungan sosial) serta ditelantarkan, niscaya dia akan menjadi orang yang celaka dan berdampak sangat buruk bagi perkembangan baik fisik, mental, maupun spiritual sang anak.
Orang tua berkewajiban memelihara anak-anaknya dengan cara mendidik, menanamkan budi pekerti yang baik, mengajarinya akhlak-akhlak yang mulia melalui keteladanan dari orang tuanya, dan juga berusaha memenuhi kebutuhan anak baik lahir maupun batin secara proporsional sesuai dengan tingkat perkembangan dan kondisi anak. Mendidik dan memberikan tuntunan merupakan sebaik-baik hadiah dan perhiasan paling indah yang diberikan oleh orang tua kepada anaknya. Sudah menjadi keharusan bagi orang tua dan pendidik untuk bekerja bersama-sama memberikan kontribusi secara aktif dan positif dalam membentuk kualitas anak yang cerdas baik secara intelektual, emosional, maupun spiritualnya.
Perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak merupakan salah satu aspek dari tahapan perkembangan anak yang seharusnya tidak luput juga dari perhatian para pendidik pada umumnya dan orang tua pada khususnya.  Pemerolehan bahasa oleh anak-anak merupakan prestasi manusia yang paling hebat dan menakjubkan.Oleh sebab itulah masalah ini mendapat perhatian besar. Pemerolehan bahasa telah ditelaah secara intensif sejak lama. Pada saat itu kita telah mempelajari banyak hal mengenai bagaimana anak-anak berbicara, mengerti, dan menggunakan bahasa, tetapi sangat sedikit hal yang kita ketahui mengenai proses aktual perkembangan bahasa.
  1. A. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Secara Umum
Manusia berinteraksi satu dengan yang lain melalui komunikasi dalam bentuk bahasa. Komunikasi tersebut terjadi baik secara verbal maupun non verbal yaitu dengan tulisan, bacaan dan tanda atau symbol. Manusia berkomunikasi lewat bahasa memerlukan proses yang berkembang dalam tahap-tahap usianya. Bagaimana manusia bisa menggunakan bahasa sebagai cara berkomunikasi selalu menjadi pertanyaan yang menarik untuk dibahas sehingga memunculkan banyak teori tentang pemerolehan bahasa.
Bahasa adalah simbolisasi dari sesuatu idea atau suatu pemikiran yang ingin dikomunikasikan oleh pengirim pesan dan diterima oleh penerima pesan melalui kode-kode tertentu baik secara verbal maupun nonverbal. Bahasa digunakan anak dalam berkomunikasi dan beradaptasi dengan lingkungannya yang dilakukan untuk bertukar gagasan, pikiran dan emosi. Bahasa bisa diekspresikan melalui bicara yang mengacu pada simbol verbal.
Selain itu, bahasa dapat juga diekspresikan melalui tulisan, tanda gestural, dan musik. Bahasa juga dapat mencakup aspek komunikasi nonverbal seperti gestikulasi, gestural atau pantomim. Gestikulasi adalah ekspresi gerakan tangan dan lengan untuk menekankan makna wicara. Pantomim adalah sebuah cara komunikasi yang mengubah komunikasi verbal dengan aksi yang mencakup beberapa gestural (ekspresi gerakan yang menggunakan setiap bagian tubuh) dengan makna yang berbeda beda.
Tahapan-tahapan Umum Perkembangan Kemampuan Berbahasa Seorang Anak, Yaitu:
  • Reflexsive Vocalization

Pada usia 0-3 minggu bayi akan mengeuarkan suara tangisan yang masih berupa refleks. Jadi, bayi menangis bukan karena ia memang ingin menangis tetapi hal tersebut dilakukan tanpa ia sadari.
  • Babling
Pada usia lebih dari 3 minggu, ketika bayi merasa lapar atau tidak nyaman ia akan mengeluarkan suara tangisan. Berbeda dengan sebelumnya, tangisan yang dikeluarkan telah dapat dibedakan sesuai dengan keinginan atau perasaan si bayi.
  • Lalling
Di usia 3 minggu sampai 2 bulan mulai terdengar suara-suara namun belum jelas. Bayi mulai dapat mendengar pada usia 2 s/d 6 bulan sehingga ia mulai dapat mengucapkan kata dengan suku kata yang diulang-ulang, seperti: “ba….ba…, ma..ma….”
  • Echolalia
Di tahap ini, yaitu saat bayi menginjak usia 10 bulan ia mulai meniru suara-suara yang di dengar dari lingkungannya, serta ia juga akan menggunakan ekspresi wajah atau isyarat tangan ketika ingin meminta sesuatu.
  • True Speech
Bayi mulai dapat berbicara dengan benar. Saat itu usianya sekitar 18 bulan atau biasa disebut batita. Namun, pengucapannya belum sempurna seperti orang dewasa.
  1. B. Tahapan Perkembangan Bahasa Pada Anak Menurut Beberapa Ahli

  • Lundsteen, membagi perkembangan bahasa dalam 3 tahap, yaitu:
1. Tahap pralinguistik
-  Pada usia 0-3 bulan, bunyinya di dalam dan berasal dari tenggorok.
-  Pada usia 3-12 bulan, banyak memakai bibir dan langit-langit, misalnya ma, da, ba.
2. Tahap protolinguitik
- Pada usia 12 bulan-2 tahun, anak sudah mengerti dan menunjukkan alat-alat tubuh. Ia mulai berbicara beberapa patah kata (kosa katanya dapat mencapai 200-300).
3. Tahap linguistik
- Pada usia 2-6 tahun atau lebih, pada tahap ini ia mulai belajar tata bahasa dan perkembangan kosa katanya mencapai 3000 buah.
  • Bzoch  membagi tahapan perkembangan bahasa anak dari lahir sampai usia 3 tahun dalam empat stadium, yaitu:
  1. 1. Perkembangan bahasa bayi sebagai komunikasi prelinguistik
Terjadi pada umur 0-3 bulan dari periode lahir sampai akhir tahun pertama. Bayi baru lahir belum bisa menggabungkan elemen bahasa baik isi, bentuk, dan pemakaian bahasa. Selain belum berkembangnya bentuk bahasa konvensional, kemampuan kognitif bayi juga belum berkembang. Komunikasi lebih bersifat reflektif daripada terencana. Periode ini disebut prelinguistik. Meskipun bayi belum mengerti dan belum bisa mengungkapkan bentuk bahasa konvensional, mereka mengamati dan memproduksi suara dengan cara yang unik.
Klinisi harus menentukan apakah bayi mengamati atau bereaksi terhadap suara. Bila tidak, ini merupakan indikasi untuk evaluasi fisik dan audiologi.
Selanjutnya, intervensi direncanakan untuk membangun lingkungan yang menyediakan banyak kesempatan untuk mengamati dan bereaksi terhadap suara.
2. Kata – kata pertama : transisi ke bahasa anak
Terjadi pada umur 3-9 bulan. Salah satu perkembangan bahasa utama milestone adalah pengucapan kata-kata pertama yang terjadi pada akhir tahun pertama, berlanjut sampai satu setengah tahun saat pertumbuhan kosa kata berlangsung cepat, juga tanda dimulainya pembetukan kalimat awal. Berkembangnya kemampuan kognitif, adanya kontrol, dan interpretasi emosional di periode ini akan memberi arti pada kata-kata pertama anak.
Arti kata-kata pertama mereka dapat merujuk ke benda, orang, tempat, dan kejadian-kejadian di seputar lingkungan awal anak.
3. Perkembangan kosa kata yang cepat-Pembentukan kalimat awal.
Terjadi pada umur 9-18 bulan. Bentuk kata-kata pertama menjadi banyak dan dimulainya produksi kalimat. Perkembangan komprehensif dan produksi kata-kata berlangsung cepat pada sekitar umur 18 bulan. Anak mulai bisa menggabungkan kata benda dengan kata kerja yang kemudian menghasilkan sintaks. Melalui interaksinya dengan orang dewasa, anak mulai belajar mengkonsolidasikan isi, bentuk, dan pemakaian bahasa dalam percakapannya. Dengan semakin berkembangnya kognisi dan pengalaman afektif, anak mulai bisa berbicara memakai kata-kata yang tersimpan dalam memorinya. Terjadi pergeseran dari pemakaian kalimat satu kata menjadi bentuk kata benda dan kata kerja.
4. Dari percakapan bayi menjadi registrasi anak pra sekolah yang menyerupai orang dewasa.
Terjadi pada umur 18-36 bulan. Anak dengan mobilitas yang mulai meningkat memiliki akses ke jaringan sosial yang lebih luas dan perkembangan kognitif menjadi semakin dalam. Anak mulai berpikir konseptual, mengkategorikan benda, orang, dan peristiwa serta dapat menyelesaikan masalah fisik. Anak terus mengembangkan pemakaian bentuk fonem dewasa
Perkembangan bahasa pada anak dapat dilihat juga dari pemerolehan bahasa menurut komponen-komponennya, yaitu:
  1. 1. Perkembangan Pragmatik
Perkembangan komunikasi anak sesungguhnya sudah dimulai sejak dini, pertama-tama dari tangisannya bila bayi merasa tidak nyaman, misalnya karena lapar, popok basah. Dari sini bayi akan belajar bahwa ia akan mendapat perhatian ibunya atau orang lain saat ia menangis sehingga kemudian bayi akan menangis bila meminta orang dewasa melakukan sesuatu buatnya.
-Pada usia 3 minggu, bayi tersenyum saat ada rangsangan dari luar, misalnya wajah seseorang, tatapan mata, suara, dan gelitikan. Ini disebut senyum sosial.
-Pada usia 12 minggu, mulai dengan pola dialog sederhana berupa suara balasan bila ibunya memberi tanggapan.
-Pada usia 2 bulan, bayi mulai menanggapi ajakan komunikasi ibunya.
-Pada usia 5 bulan, bayi mulai meniru gerak gerik orang, mempelajari bentuk ekspresi wajah. -Pada usia 6 bulan, bayi mulai tertarik dengan benda-benda sehinga komunikasi menjadi komunikasi ibu, bayi, dan benda-benda.
-Pada usia 7-12 bulan, anak menunjuk sesuatu untuk menyatakan keinginannya. Gerak-gerik ini akan berkembang disertai dengan bunyi-bunyi tertentu yang mulai konsisten. Pada masa ini sampai sekitar 18 bulan, peran gerak-gerik lebih menonjol dengan penggunaan satu suku kata. -Pada usia 2 tahun,  anak kemudian memasuki tahap sintaksis dengan mampu merangkai kalimat dua kata, bereaksi terhadap pasangan bicaranya dan masuk dalam dialog singkat. Anak mulai memperkenalkan atau merubah topik dan mulai belajar memelihara alur percakapan dan menangkap persepsi pendengar. Perilaku ibu yang fasilitatif akan membantu anaknya dalam memperkenalkan topik baru.
-Lewat umur 3 tahun, anak mulai berdialog lebih lama sampai beberapa kali giliran. Lewat umur ini, anak mulai mampu mempertahankan topik yang selanjutnya mulai membuat topik baru. Hampir 50 persen anak 5 tahun dapat mempertahankan topik melalui 12 kali giliran. Sekitar 36 bulan, terjadi peningkatan dalam keaktifan berbicara dan anak memperoleh kesadaran sosial dalam percakapan.
Ucapan yang ditujukan pada pasangan bicara menjadi jelas, tersusun baik dan teradaptasi baik untuk pendengar. Sebagian besar pasangan berkomunikasi anak adalah orang dewasa, biasanya orang tua. Saat anak mulai membangun jaringan sosial yang melibatkan orang diluar keluarga, mereka akan memodifikasi pemahaman diri dan bayangan diri serta menjadi lebih sadar akan standar sosial. Lingkungan linguistik memiliki pengaruh bermakna pada proses belajar berbahasa. Ibu memegang kontrol dalam membangun dan mempertahankan dialog yang benar. Ini berlangsung sepanjang usia pra sekolah. Anak berada pada fase mono dialog, percakapan sendiri dengan kemauan untuk melibatkan orang lain. Monolog kaya akan lagu, suara, kata-kata tak bermakna, fantasi verbal dan ekspresi perasaan.
  1. 2. Perkembangan Semantik
Karena faktor lingkungan sangat berperan dalam perkembangan semantik, maka pada umur 6-9 bulan anak telah mengenal orang atau benda yang berada di sekitarnya. Leksikal dan pemerolehan konsep berkembang pesat pada masa prasekolah. Terdapat indikasi bahwa anak dengan kosa kata lebih banyak akan lebih popular di kalangan teman-temannya. Diperkirakan terjadi penambahan lima kata perhari di usia 1,5 sampai 6 tahun. Pemahaman kata bertambah tanpa pengajaran langsung orang dewasa. Terjadi strategi pemetaan yang cepat diusia ini sehingga anak dapat menghubungkan suatu kata dengan rujukannya. Pemetaan yang cepat adalah langkah awal dalam proses pemerolehan leksikal. Selanjutnya secara bertahap anak akan mengartikan lagi informasi-informasi baru yang diterima. Definisi kata benda anak usia pra sekolah meliputi properti fisik seperti bentuk, ukuran dan warna, properti fungsi, properti pemakaian, dan lokasi. Definisi kata kerja anak prasekolah juga berbeda dari kata kerja orang dewasa atau anak yang lebih besar.
Anak prasekolah dapat menjelaskan siapa, apa, kapan, di mana, untuk apa, untuk siapa, dengan apa, tapi biasanya mereka belum memahami pertanyaan bagaimana dan mengapa atau menjelaskan proses. Anak akan mengembangkan kosa katanya melalui cerita yang dibacakan orang tuanya. Begitu kosa kata berkembang, kebutuhan untuk mengorganisasikan kosa kata akan lebih meningkat dan beberapa jaringan semantik atau antar relasi akan terbentuk.
  1. 3. Perkembangan Sintaksis

Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia 1 tahun bahkan lebih dari 2 tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan masa “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut masa holofrastis. Kalimat satu kata bisa ditafsirkn dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Hanya mempertimbangkan arti kata semata-mata tidaklah mungkin kita menangkap makna dari kalimat satu kata tersebut. Peralihan dari kalimat satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama terbentuk yaitu penggabugan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata memberi makna lebih dari satu maka anak membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat pesat pada waktu anak menjalani usia 2 tahun dan mencapai puncaknya pada akhir usia 2 tahun.
  1. 4. Perkembangan Morfologi
Periode perkembangan ditandai dengan peningkatan panjang ucapan rata-rata yang diukur dalam morfem. Panjang rata-rata ucapan, mean length of utterance (MLU) adalah alat prediksi kompleksitas bahasa pada anak yang berbahasa Inggris. MLU sangat erat berhubungan dengan usia dan merupakan prediktor yang baik untuk perkembangan bahasa. Dari usia 18 bulan sampai 5 tahun MLU meningkat kira-kira 1,2 morfem per tahun. Penguasaan morfem mulai terjadi saat anak mulai merangkai kata sekitar usia 2 tahun. Beberapa sumber yang membahas tentang morfem dalam kaitannya dengan morfologi semuanya merupakan Bahasa Inggris yang sangat berbeda dengan Bahasa Indonesia.
  1. 5. Perkembangan Fonologi
Perkembangan fonologi melalui proses yang panjang dari dekode bahasa. Sebagian besar konstruksi morfologi anak akan tergantung pada kemampuannya menerima dan memproduksi unit fonologi. Selama usia prasekolah, anak tidak hanya menerima inventaris fonetik dan sistem fonologi tapi juga mengembangkan kemampuan menentukan bunyi mana yang dipakai untuk membedakan makna. Pemerolehan fonologi berkaitan dengan proses konstruksi suku kata yang terdiri dari gabungan vokal dan konsonan. Bahkan dalam babbling, anak menggunakan konsonan-vokal (KV) atau konsonan-vokal-konsonan (KVK). Proses lainnya berkaitan dengan asimilasi dan substitusi sampai pada persepsi dan produksi suara.
  1. C. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Anak dalam Berbahasa
Ada tiga faktor paling signifikan yang mempengaruhi anak dalam berbahasa, yaitu  biologis, kognitif,dan linkungan

1. Evolusi Biologi


Evolusi biologis menjadi salah satu landasan  perkembangan bahasa. Mereka menyakini bahwa evolusi biologi membentuk manusia menjadi manusia linguistik. Noam Chomsky (1957) meyakini bahwa  manusia terikat secara biologis untuk mempelajari bahasa pada suatu waktu tertentu dan dengan cara tertentu. Ia menegaskan bahwa setiap anak mempunyai language acquisition device (LAD), yaitu kemampuan alamiah anak untuk berbahasa. Tahun-tahun awal masa anak-anak merupakan periode yang penting untuk belajar bahasa (critical-period). Jika pengenalan bahasa tidak terjadi sebelum masa remaja, maka ketidakmampuan dalam menggunakan tata bahasa yang baik akan dialami seumur hidup. Selain itu, adanya periode penting dalam mempelajari bahasa  bisa dibuktikan salah satunya dari aksen orang dalam berbicara. Menurut teori ini, jika orang berimigrasi setelah berusia 12 tahun kemungkinan akan berbicara bahasa negara yang baru dengan aksen asing pada sisa hidupnya, tetapi kalau orang berimigrasi sebagai anak kecil, aksen akan hilang ketika bahasa baru akan dipelajari (Asher & Gracia, 1969).
2. Faktor kognitif

Individu merupakan satu hal yang tidak bisa dipisahkan pada perkembangan bahasa anak. Para ahli kognitif juga menegaskan bahwa kemampuan anak berbahasa tergantung pada kematangan kognitifnya (Piaget,1954). Tahap awal perkembangan intelektual anak terjadi dari lahir sampai berumur 2 tahun. Pada masa itu anak mengenal dunianya melalui sensasi yang didapat dari inderanya dan membentuk persepsi mereka akan segala hal yang berada di luar dirinya. Misalnya, sapaan lembut dari ibu/ayah ia dengar dan belaian halus, ia rasakan, kedua hal ini membentuk suatu simbol dalam proses mental  anak. Perekaman sensasi  nonverbal (simbolik) akan berkaitan dengan memori asosiatif yang nantinya akan memunculkan suatu logika. Bahasa simbolik itu merupakan bahasa yang personal dan setiap bayi pertama kali berkomunikasi dengan orang lain menggunakan bahasa simbolik. Sehingga sering terjadi hanya ibu yang mengerti apa yang diinginkan oleh anaknya dengan melihat/mencermati bahasa simbol yang dikeluarkan oleh anak. Simbol yang dikeluarkan anak dan dibahasakan oleh ibu itulah yang nanti membuat suatu asosiasi, misalnya saat bayi lapar, ia menangis dan memasukkan tangan ke mulut, dan ibu membahasakan, “lapar ya.. mau makan?”
3. lingkungan luar
Sementara itu, di sisi lain proses penguasaan bahasa tergantung dari stimulus dari lingkungan. Pada umumnya, anak diperkenalkan bahasa sejak awal perkembangan mereka, salah satunya disebut motherse, yaitu cara ibu atau orang dewasa, anak belajar bahasa melalui proses imitasi dan perulangan dari orang-orangdisekitarnya.
Bahasa pada bayi berkembang melalui beberapa tahapan umum:
  • mengoceh (3-6 bulan)
  • kata pertama yang dipahami (6-9 bulan)
  • instruksi sederhana yang dipahami (9-12 bulan)
  • kata pertama yang diucapkan (10-15 bulan)
  • penambahan dan penerimaan kosa kata (lebih dari 300 kata pada usia 2 tahun).
  • tiga tahun ke depan kosa kata akan berkembang lebih pesat lagi
Pengenalan bahasa yang lebih dini dibutuhkan untuk memperoleh ketrampilan bahasa yang baik. Tiga faktor diatas saling mendukung untuk menghasilakan kemampuan berbahasa maksimal. Orang tua, khususnya, harus memberikan stimulus yang positif pada pengembangan keterampilan bahasa pada anak, seperti berkomunikasi pada anak dengan kata-kata yang baik dan mendidik, berbicara secara halus, dan sebisa mungkin membuat anak merasa nyaman dalam suasana kondusif rumah tangga yang harmonis, rukun, dan damai. Hal tersebut dapat menstimulus anak untuk bisa belajar berkomunikasi dengan baik karena jika anak distimulus secara positif maka akan mungkin untuk anak merespon secara positif pula.

D.    Pengaruh Pola Asuh terhadap Perkembangan Bahasa Anak

Secara mentali, pemerolehan bahasa bisa dimulai sejak bayi masih berada dalam kandungan. Sang ibu bisa mengajak bayi berkomunikasi tentang hal yang positif. Kontak batin antara ibu dan janin akan tercipta dengan baik bila kondisi psikis ibu dalam keadaan stabil. Keharmonisan yang terjalin lewat komunikasi bisa memengaruhi kejiwaan anak. Orangtua bisa mengajak anak bercerita tentang kebesaran Sang Pencipta dan alam ciptaan-Nya; mengenalkannya pada kicau burung, kokok ayam, rintik hujan, desir angin; memperdengarkan Kalam Ilahi atau membacakan kisah-kisah bijak.
Yudibrata dkk. (1998: 65-72) menjelaskan bahwa selama bulan-bulan pertama pascalahir atau sebelum seorang anak mempelajari kata-kata yang cukup untuk digunakan sebagai sarana berkomunikasi, anak secara kreatif terlebih dahulu akan menggunakan empat bentuk komunikasi prabicara (preespeech). Keempat prabicara itu adalah tangisan, ocehan/celoteh/meraban, isyarat, dan ungkapan emosional. Menurut para pakar, perkembangan pemerolehan bahasa pada anak sangat berhubungan dengan kematangan neuromoskularnya yang kemudian dipengaruhi oleh stimulus yang diperolehnya setiap hari (Yudibrata, 1998: 72-73). Awalnya, tidak ada kontrol terhadap pola tingkah laku termasuk tingkah laku verbalnya. Vokal anak dan otot-otot bicaranya bergerak secara refleks. Pada bulan-bulan pertama, otaknya berkembang dan mengatur mekanisme saraf sehingga gerakan refleks tadi sudah dapat dikontrol. Refleks itu berhubungan dengan gerakan lidah atau mulut. Misalnya, anak akan mengedipkan mata kalau melihat cahaya yang berubah-ubah atau bibirnya akan bergerak-gerak ketika ada sesuatu disentuhkan ke bibirnya. Selanjutnya, dalam rangka memerikan perkembangan pemerolehan bahasa, Stork dan Widdowson (dalam Yudibrata, 1998: 73) membedakan antara kematangan menyimak (receptive language skills) dan kematangan mengeluarkan bunyi bahasa atau berbicara (expressive language skills). Kematangan menyimak terjadi lebih dahulu daripada kematangan berbicara meskipun dalam perkembangan selanjutnya kedua kematangan ini saling berhubungan.
Pada awal kelahirannya, anak belum dapat membalas stimulus yang berasal dari manusia. Seiring dengan berfungsinya alat artikulasi, yakni ketika anak sudah mulai berceloteh dengan bunyi bilabial seperti [m] untuk ma-ma dan [p] untuk pa-pa atau [b] untuk ba-ba, orangtua sudah bisa melakukan interaksi bahasa dengan anak. Satu hal yang perlu diingat, ma-ma dan pa-pa sebagai celotehan anak bukan merujuk pada makna kata secara harfiah yang berarti ibu dan ayah, melainkan karena semata-mata bunyi konsonan bilabial dan vokal [a] adalah bunyi yang mudah dikuasai pada saat permulaan berujar. Dari keterampilan ini bisa terjalin suasana yang lebih komunikatif antara orangtua dan anak yang berdampak pada perkembangan selanjutnya. Dampaknya bisa positif bisa juga negatif. Semakin baik stimulus yang diberikan orangtua, semakin positif respon yang dimunculkan anak. Untuk melatih keterampilan menyimak, orangtua bisa menggunakan metode simak-dengar dengan menyuguhi anak cerita yang disukainya. Penceritaan langsung tanpa menggunakan buku sekali-kali perlu dilakukan untuk perubahan suasana. Bercerita langsung dengan kata-kata sendiri yang dimengerti anak akan memberi efek lebih pada penceritaannya. Kegiatan bercerita ini hendaknya dilakukan dengan menggunakan bahasa ibu (bahasa pertama anak).
Keterampilan menyimak akan berdampak pada keterampilan berbicara. Stimulus orangtua yang berupa data simakan bagi anak bisa direspon dengan metode ulang-ucap. Metode ini akan menunjukkan daya serap anak terhadap cerita atau ujaran orangtua. Pada tahapan ini, orangtua sebaiknya mengubah posisi dari posisi pencerita menjadi pendengar yang baik. Biarkan anak bercerita dengan lugas menurut pemahamannya. Ini bisa membantu anak dalam proses berbicara. Orangtua jangan menuntut anak untuk bercerita sesuai dengan gaya penceritaan orangtua.
Hal itu akan membuat jiwa anak tertekan dan terhambat daya kreativitasnya dalam berbahasa. Terkadang anak ingin berbagi cerita tentang suatu hal yang baru dialami atau didapatinya dan ia akan sangat senang jika orangtuanya mau meluangkan sedikit waktu untuk duduk bersamanya dan mendengarkan celoteh riangnya. Namun, ada kalanya anak enggan bercerita sama sekali. Jika ini terjadi, jangan paksa anak untuk bercerita. Kondisi psikis anak tidak selalu dalam keadaan yang stabil. Seringkali timbul sensitivitas yang memengaruhi sisi kejiwaannya sehingga muncul perasaan kesal, marah, atau benci pada sesuatu hal. Dialog atau komunikasi interpersonal antara orangtua dan anak bisa menjadi alternatif solusi.
Pola asuh seperti dipaparkan di atas akan berhasil bilamana orangtua mampu menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan bahasa anak. Para ahli sepakat bahwa pemerolehan bahasa sangat dipengaruhi oleh penggunaan bahasa sekitar. Dengan kata lain, perjalanan pemerolehan bahasa seorang anak akan sangat bergantung pada lingkungan bahasa anak tersebut (Yudibrata, 1998: 65). Sebelum anak memasuki lingkungan sosial yang lebih luas, masa bermain dan bersekolah, lingkungan keluarga seyogianya bisa menjadi arena yang menyenangkan bagi proses perkembangan anak. Rumah adalah sekolah pertama bagi anak, dan orangtua adalah guru pertama yang bisa mengantar anak menuju gerbang pendidikan formal. Sebagai guru, orangtua memiliki andil yang besar dalam pendidikan anaknya, baik dalam segi waktu, materi, dan tenaga. Penyediaan sarana dan prasarana pendidikan di lingkungan rumah merupakan hal penting bagi proses perkembangan anak. Proses ini semestinya tidak terhambat oleh masalah finansial. Yang penting, bagaimana orangtua membuat kondisi rumah sedemikian rupa agar mampu menghasilkan stimulus positif sebanyak dan sevariatif mungkin. Sesuai dengan nalurinya, anak senantiasa ingin mengetahui segala hal dan mencoba sesuatu yang baru. Pemberian stimulus akan memengaruhi perubahan perilaku anak. Stimulus yang diberikan orangtua akan terbingkai dalam pola pikir, pola tindak, dan pola ucap anak. Jika orangtua menginginkan anaknya santun berbahasa, maka berikan stimulus yang positif. Setiap aktivitas yang ada dan terjadi di lingkungan rumah merupakan rangkaian dari proses pemerolehan yang sifatnya berkala dan berkesinambungan. Dalam hal ini orangtua berperan sebagai motor penggerak yang memegang kendali pertama dan utama dalam perkembangan bahasa anak melalui (salah satunya) pola asuh yang mendidik.

  1. E. Gangguan Perkembangan Bahasa pada Anak
Gangguan bicara dan bahasa adalah salah satu penyebab terhambatnya tumbuh-kembang anak yang sering ditemui. Adapun gangguan yang sering dikeluhkan orangtua yaitu keterlambatan bicara. Beberapa laporan menyebutkan angka kejadian gangguan bicara dan bahasa berkisar 5-10 % pada anak sekolah. Anak dikatakan mengalami keterlambatan bicara dan harus berkonsultasi dengan ahli, bila sampai usia 12 bulan sama sekali belum mengeluarkan ocehan atau babbling, sampai usia 18 bulan belum keluar kata pertama yang cukup jelas, padahal sudah dirangsang dengan berbagai cara, terlihat kesulitan mengatakan beberapa kata konsonan, seperti tidak memahami kata-kata yang kita ucapkan, serta terlihat berusaha sangat keras untuk mengatakan sesuatu, misalnya sampai ngiler atau raut muka berubah. Penyebab keterlambatan bicara sangat luas dan banyak. Mulai yang bisa membaik hingga yang sulit dikoreksi. Semakin dini mendeteksi keterlambatan bicara, maka semakin baik kemungkinan pemulihan gangguan tersebu.
Ada beberapa gangguan yang perlu diperhatikan orangtua:

1.Disfasia

Adalah gangguan perkembangan bahasa yang tidak sesuai dengan perkembangan kemampuan anak seharusnya. Ditengarai gangguan ini muncul karena adanya ketidaknormalan pada pusat bicara yang ada di otak. Anak dengan gangguan ini pada usia setahun belum bisa mengucapkan kata spontan yang bermakna, misalnya mama atau papa. Kemampuan bicara reseptif (menangkap pembicaraan orang lain) sudah baik tapi kemampuan bicara ekspresif (menyampaikan suatu maksud) mengalami keterlambatan. Karena organ bicara sama dengan organ makan, maka biasanya anak ini mempunyai masalah dengan makan atau menyedot susu dari botol.
2.Gangguan disintegratif pada kanak-kanak (Childhood Diintegrative Disorder/CDD)
Pada usia 1-2 tahun, anak tumbuh dan berkembang dengan normal, kemudian kehilangan kemampuan yang telah dikuasainya dengan baik. Anak berkembang normal pada usia 2 tahun pertama seperti kemampuan komunikasi, sosial, bermain dan perilaku. Namun, kemampuan itu terganggu sebelum usia 10 tahun, yang terganggu di antaranya adalah kemampuan bahasa, sosial, dan motorik.

3.Sindrom Asperger
Gejala khas yang timbul adalah gangguan interaksi sosial ditambah gejala keterbatasan dan pengulangan perilaku, ketertarikan, dan aktivitas. Anak dengan gangguan ini mempunyai gangguan kualitatif dalam interaksi sosial. Ditandai dengan gangguan penggunaan beberapa komunikasi nonverbal (mata, pandangan, ekspresi wajah, sikap badan), tidak bisa bermain dengan anak sebaya, kurang menguasai hubungan sosial dan emosional.
4.Gangguan Multisystem Development Disorder (MSDD)
MSDD digambarkan dengan ciri-ciri mengalami problem komunikasi, sosial, dan proses sensoris (proses penerimaan rangsang indrawi). Ciri-cirinya yang jelas adalah reaksi abnormal, bisa kurang sensitif atau hipersensitif terhadap suara, aroma, tekstur, gerakan, suhu, dan sensasi indera lainnya. Sulit berpartisipasi dalam kegiatan dengan baik, tetapi bukan karena tertarik, minat berkomunikasi dan interaksi tetap normal tetapi tidak bereaksi secara optimal dalam interaksinya. Ada masalah yang terkait dengan keteraturan tidur, selera makan, dan aktivitas rutin lainnya.
  1. F. Elaborasi Mengenai Hasil Pemaparan atau Penjelasan Tentang Perkembangan Bahasa Pada Anak

Tahapan-tahapan perkembangan anak baik fisik maupun mental sangat penting untuk dipelajari dan dipahami oleh para orang tua pada khususnya dan para pendidik pada umumnya. Hal itu penting karena apa yang diberikan oleh orang tua dan para pendidik kepada anak dalam masa perkembangannya akan sangat berpengaruh pada masa depan sang anak dikemudian harinya . Sebagai contohnya yaitu dalam aspek perkembangan bahasa atau komunikasi pada anak. Untuk menanamkan perkembangan bahasa anak yang baik diperlukan pola pengasuhan yang komprehensif dari orang tua yang merupakan pendidik yang pertama dan utama bagi seorang anak.
Keluarga merupakan ‘taman sekolah’ pertama bagi seorang anak. Dari sana lah sang anak dibentuk pertama kali oleh orang tuanya akan menjadi seperti apa dikemudian harinya. Orang tua harus memahami betul kapan seorang anak mengalami perkembangan bahasa pertahapannya sehingga orang tua dapat memberikan stimulus positif yang sesuai dengan tahapan perkembangannya.
Dari awal ketika bayi lahir, seorang ayah langsung menyuarakan adzan ke telinga sang bayi dengan tujuan agar suara yang pertama kali didengar oleh anak adalah kalimat yang baik walaupun pada saat bayi lahir pendengarannya belum dapat berfungsi dengan baik. Namun, jika pertamanya diawali dengan baik maka dalam perkembangannya pun insya Allah dapat baik pula.
Kemudian, ketika bayi mulai tumbuh dan melalui fase-fase perkembangan bahasa, seorang ibu harus menstimuli sang anak dengan mengucapkan kata-kata yang baik, pujian-pujian, kata-kata kasih sayang, dan disertai pula dengan komunikasi nonverbal seperti ekspresi wajah yang lembut, memberi ciuman dan pelukan hangat. Komunikasi verbal saja tidak cukup. Jadi, harus saling bersamaan antara komunikasi verbal dan nonverbal. Dengan begitu, emotional bonding antara ibu dan anak semakin kuat.
Demikian pula ketika menstimulasi anak melalui sarana komunikasi, seperti televisi, komputer, dan radio. Orang tua harus menemani anak dalam menonton televisi. Berdasarkan penelitian, televisi dapat menghambat perkembangan bahasa anak. Orang tua harus memilah-milah mana tontonan yang baik dan sesuai dengan perkembangan anak dan mana yang tidak dan pula harus diberi penjelasan mengenai pesan-pesan dari tontonan tersebut pada anak. Kemudian, dalam memperkenalkan komputer pada anak, orang tua harus secara aktif menemani anak dalam memperkenalkan dan mempelajari  komputer. Waktu pemakaian komputer pun juga harus dibatasi karena anak juga harus berinteraksi dengan lingkungan sosialnya. Lalu terkait dengan nyanyian atau lagu untuk anak-anak. Hal itu pula harus diperhatikan karena sangat mempengaruhi bahasa anak. Lebih baik menghidupi suasana rumah dengan senandung Al-Qur’an dan perkenalkanlah Al-Qur’an sejak dini kepada anak.
Perkembangan bahasa pada anak tidak dapat berlangsung dengan baik tanpa didukung aktif oleh orang tua dan pendidik. Selain ibu, peran ayah pun juga sangat dibutuhkan dalam masa perkembangan bahasa anak. Ayah juga harus menjadi teladan yang baik bagi anaknya, yaitu dalam mengucapkan atau berkomunikasi dengan mengucapkan kata-kata yang penuh ilmu dan tuntunan agama, tidak kasar, dan tidak membentak. Jika orang tua dan pendidik bekerja sama dengan baik dalam memberikan teladan yang positif pada anak dalam masa-masa perkembangannya baik fisik maupun mental maka anak kelak akan tumbuh menjadi generasi penerus bangsa yang mulia budi pekertinya dan santun budi bahasanya.

sumber :  http://yayangy08.student.ipb.ac.id

Manfaat dan Bahaya Kopi

Tulisan 1 ( B. Inggris Bisnis 2)

Kopi termasuk minuman yang digemari oleh pria dan wanita. Minuman konon yang bisa mengurangi rasa kantuk ini sangat umum di masyarakat Indonesia. Bahkan, gerai-gerai kopi sudah menjamur di berbagai sudut kota, hingga di mall.
Kafein bekerja dalam tubuh dengan mengambil alih reseptor adenosin dalam sel syaraf yang akan memacu produksi hormon adrenalin. Di dalam kopi terkandung kafein, yang merupakan senyawa kimia alkaloid yang dikenal sebagai trimetilsantin dengan rumus molekul C8H10N4O2. Jumlah kandungan kafein dalam kopi adalah 1-1,5%, sedangkan pada teh 1-4,8%.

Manfaat Kopi
Dalam dunia kedokteran, kafein sering digunakan sebagai perangsang kerja jantung dan meningkatkan produksi urin. Dalam dosis yang rendah kafein dapat berfungsi sebagai bahan pembangkit stamina dan penghilang rasa sakit. Mekanisme kerja kafein dalam tubuh adalah menyaingi fungsi adenosin (salah satu senyawa yang dalam sel otak bisa membuat orang cepat tertidur). Dimana kafein itu tidak memperlambat gerak sel-sel tubuh, melainkan kafein akan membalikkan semua kerja adenosin sehingga tubuh tidak lagi mengantuk, tetapi muncul perasaan segar, sedikit gembira, mata terbuka lebar, jantung berdetak lebih kencang, tekanan darah naik, otot-otot berkontraksi dan hati akan melepas gula ke aliran darah yang akan membentuk energi ekstra. Itulah sebabnya berbagai jenis minuman pembangkit stamina umumnya mengandung kafein sebagai bahan utamanya.
Bahaya Kopi
Selain manfaatnya untuk kesehatan ternyata kopi juga memiliki kerugian. Salah satunya adalah efek ketergantungan. Minum kopi ternyata dapat meningkatkan resiko terkena stroke. Sebuah penelitian yang dimuat dalam journal of neurology, neurosurgry and psychiatry tahun 2002 menyimpulkan bahwa minum lebih dari 5 gelas kopi perhari akan meningkatkan resiko terjadinya kerusakan pada dinding pembuluh darah. Kafein juga dapat menyebabkan insomnia, mudah gugup, sakit kepala, merasa tegang dan cepat marah.
Pada wanita hamil juga disarankan tidak mengkonsumsi kopi dan makanan yang mengandung kafein. Hal ini karena kafein dapat meningkatkan denyut jantung. Pada janin dapat menyerang plasenta dan masuk dalam sirkulasi darah janin. Dampak terburuknya, bisa menyebabkan keguguran.
Saya Penggemar Kopi, Harus Bagaimana?
Minum kopi dalam jumlah yang cukup atau sedang tidak akan membahayakan, bahkan akan bermanfaat bagi kesehatan. Jumlah yang boleh dikonsumsi adalah 300 mg kafein atau setara dengan 3 cangkir kopi perhari. Kecanduan terhadap kafein diperkirakan jika mengkonsumsi lebih dari 600 mg kafein atau setara dengan 5-6 cangkir kopi perhari selama 8-15 hari berturut-turut. Sedangkan dosis yang dapat berakibat fatal bagi manusia adalah sekitar 10 gram kafein atau 20-50 cangkir perhari.

sumber :  http://ssicommunity.com

tugas 1 bahasa inggris bisnis2

Nama          :         INDAH ISTIARNINGSIH
NPM           :         10208633
Kelas           :         4EA14
Bahasa Inggris Bisnis 2 (Tugas I)
1. Pengalaman pertama kali kenal bahasa inggris
2. Kesulitan berbahasa inggris
3. Buat kalimat

  1. I first learned English when I would Kindergarten. but to remember all of it was hard for me. Just when I started my primary school class. that time I was hard to read let alone to write. every English teacher entered my classroom, feelings of panic, nervousness, trembling immediately attacked me. because the teacher is always calling me every lesson the students to read stories of children in our textbooks.

    school final exam time came and we were still the same panic. Our difficulty in working the problems and the noise finally came, I was out with friends cheating with a pretty good friend of mine :).
    time went by and finally I decided to take English language courses along with older brother and friends home. I got interested after the course to continue learning to read and understand a sentence.

    to the elementary school graduation, I had to stop the course, the reason being that my friends already do not follow such a course. and at my junior high school as well as elementary school. the course should be with my friends. if my friends quit, I quit, too. so that's my experience of learning English :D
  2. Difficulties in english I think it is:
    • It's hard to remember the words,
    • Pronunciation, same sound but different meaning for example, too, to and two; whether and weather; hear and here; buy and by;,
    • Difficult to distinguish a noun with another verb, 
    • Pronunciation of the in words that confuse the letter U for example, the word is read PUT / u / as usual, but if the word CUT changed again saying so / a /, but the difference is only P and C. confuse you?,
    • Find a word in the dictionary to make English sentences were wrong ooh its use in the context of English (relying too much on dictionaries) for instance instance to hear the words we use should HEAR the word we use is LISTENT TO or vice versa there are also other words for example, the word word similar meaning in our language such as SEE, LOOK, and WATCH.,
    • There is another irregular verbs,
    • Have to memorize a lot of rules and lots of tense
    • The end result of difficulties in English, the result is to speak the English fear of being wrong
  1. Singing From The Same Hymn Sheet = Bernyanyi dari lembaran syair yang sama
They sing from the same hymn sheet, as the ceremony came.       

Talk the talk, walk the walk = Berbicara satu bahasa, berjalan seirama
Various islands, tribes, languages ​​that exist in our country, but still Talk the talk, walk the walk  namely Indonesia

The elephant in the room = Gajah dalam ruangan
If you can not enjoy the job, then this job is not suitable for you so that you can not enjoy what is called The elephant in the room.

Pass to the monkey = Melewati kera
Pass to the monkey, it made ​​us realize that it is not easy to conquer the animal, as well as English, that the attempt to conquer the English language that should be tried and a lot of practice.
 
All hands to the deck = Semua tangan ke geladak
All hands to the deck, and ready to steer the ship and similar large.